FF

Jumat, 03 Oktober 2014

Seoul Match (FF EXO)

Seoul Match
Author : Ryu (@ayunurcah)
Genre : Schoollife, Romance
Rating : Teen
Length : Chaptered
Summary : What the step to breath? You teach me all about magical life, and you give me this love, love that I never feel it.

Chapter 1


Pandanganku seolah mati rasa, aku terlalu malas mengangkat kepalaku dari meja kayu kelasku. Kakinya juga akan secara otomatis tak berminat barang sedikitpun berpindah tempat dari bangkuku sekarang. Gaeun, teman satu bangkuku menyuruhku untuk segera berangkat ke wastafel depan kelas dan mencuci mukaku, sayangnya aku menganggap itu kegiatan yang tak berguna. Ini jam istirahat, tak ada salahnya jika aku bermalas-malasan daripada harus berdesakan di kantin untuk mendapatkan secuil makanan. Aku bukan murid Seoul State Senior School yang malas, namun menurutku aku sudah cukup rajin dalam mengumpulkan tugas, menghafalkan rumus, mendengarkan ocehan para guru dan pandai dalam menjawab pertanyaan. Itu dibuktikan dengan rankingku yang selalu berada di puncak kelas.
Lima gadis diujung kelasku sedang menggunjingku, diam-diam. Aku tahu, aku sangat tahu. Kepeduliaanku berada pada level sangat rendah saat ini, lagipula aku tak memiliki kepribadian berdebat tentang hal-hal yang tidak penting dengan gadis kekanak-kanakan macam mereka. Paling-paling mereka membicarakan hubunganku dengan Sehun.
Ah, joah! Ini sangat bagus. Kehidupanku yang sangat sempurna dengan otak berstandar luar biasa-kata Mr. Ahn-dan kepribadian dingin yang aku bangun sejak bertahun-tahun lamanya telah gugur. Beberapa bulan setelah Sehun masuk ke dalam S4, ia selalu menganggu seluruh kegiatan belajarku. Seminggu yang lalu dia memberanikan dirinya mengajakku ke kantin sekolah yang sangatlah ramai dan menyatakan perasaan anehnya padaku disana. Jujur saja, dia bukanlah seseorang yang buruk rupa, tentu saja tidak. Satu-satunya alasan mengapa aku sangat malas melihat wajahnya adalah, dia disukai banyak gadis dan dia sedikit kekanak-kanakan. Aku benci dua perkara itu.
Seminggu setelah kejadian menggemparkan itu, lokerku penuh dengan kertas, dimana kertas itu ditulis dengan huruf balok besar serta beberapa siluet darah yang terpampang jelas disana. Mereka adalah fans Sehun. Aku benci idola dan fansnya.
Catatan. Aku nyaris benci semua hal di dunia ini. Tapi aku tak membenci sekolah dan pendidikan. Itu kebutuhanku, seperti nasi, aku membutuhkan keduanya.
Aku menolaknya. Secara mentah-mentah. Aku benci cinta, atau apapun yang berkaitan dengannya. Satu-satunya yang kusuka adalah apa yang aku lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, mencuci tubuhku dibawah jatuhnya air shower, memakai seragam SMA-ku, berjalan ke halte menuju ke sekolah, belajar di sekolah, mendengarkan tanpa berbicara, lalu pulang ke rumah, mengguyur tubuhku dengan air dingin, makan malam dan tertidur. Hanya itu yang kusuka. Oh, ya, aku juga suka jika kau mengajakku ke toko buku atau perpustakaan dekat rumahku.
Yah, aku tahu jika aku dilahirkan atas dasar cinta oleh kedua orangtua kandungku, tapi aku tak peduli itu. Karena apa, karena mereka berdua membuangku di depan rumah seorang pelacur muda dan adiknya yang masih kecil saat aku bayi. Karena dibesarkan di lingkungan yang agak menyebalkan dan menjijikkan, aku sekalipun tak ingin menikmati makanan atau apapun barang di rumah yang diperoleh dari hasil pekerjaan kotor Seyoung Eonni.
Begini, aku dibuang oleh kedua orangtuaku di depan rumah kecil milik Seyoung Eonni dan adiknya yang bernama Minjung. Seyoung adalah wanita nakal yang tak ada bedanya dengan murahan. Dia sudi memakan makanan hasil keringat pekerjaan hina yang nyaris seumur hidupnya ia jalani. Dan bodohnya lagi, Minjung Eonni yang lebih tua dariku 5 tahun itu juga sanggup memakan hasil itu. Mereka berdua tak pernah bersikap baik padaku. Tapi aku tetap menghargai mereka, setidaknya mereka tak sekeji kedua orangtuaku. Aku diizinkan keluar dari rumah kapanpun aku mau setelah pekerjaan rumahku selesai. Pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan bukanlah main-main, kawan. Aku harus menyapu setiap inchi rumah, mengepelnya, menata setiap ruangan, mencuci piring serta baju dan memasak. Tak heran jika aku pandai dalam segala hal. Tapi anehnya, tanganku sama sekali tak kasar seperti tangan Minjung.
Hari ini, aku berencana akan pergi ke perpustakaan di persimpangan jalan Chumdong A, disana adalah pusat perbelanjaan di daerah rumahku. Gaeun meminta untuk ikut, sayangnya mendadak ia harus mengantar kekasihnya untuk latihan wushu di Kkamheok C. Bodoh! Jika aku jadi dia, mana mau aku melakukan itu. Gaeun hanya menitipkan novel yang menurutku bagus untuk kupinjamkan dan dibaca olehnya. Dasar Gaeun! Ia hanya gemar membaca buku novel.
“Bodoh! Kebodohan paling besar adalah menolak Oh Sehun!”
Aku mulai benci suara-suara yang terngiang di kepalaku. Biasanya aku akan mengabaikan itu karena itu tidak benar, sayangnya semuanya benar, jadi aku tak bisa mengabaikan itu.
“Jika aku jadi dia, aku akan pelihara Sehun dan menjadikannya Rajaku. Dasar bodoh, ya, superior kelas kita!”
Oke, ini keterlaluan!
“Apa masalahmu?” tanyaku pada akhirnya mengangkat tubuhku dari atas meja dan melangkah mendekati lima gadis sialan itu. “Kau ingin sepertiku?”
Im Yoona tertawa, “hei, Superior, kau tersinggung?”
Aku ikut tertawa bengis, sama sekali aku tak ingin dikalahkan dari gadis brengsek macam mereka. “Jelas aku tersinggung, karena hanya aku siswi disini yang merasakan dicintai Oh Sehun.”
“Jaga ucapanmu, Superior!” yang lain bernama Yuri menjawab, “kami bisa mengkeroyokmu jika kami mau.”
“Jinjja? Aku takut!” jawabku dengan nada sengak, lalu berlalu membiarkan mereka memikirkan cemoohan yang pantas untukku. Sayangnya semua itu takkan pernah mau kumasukkan di otakku. Karena apa, karena otakku ini emas. Terlalu berharga untuk hal-hal yang yang tak sebanding dengan rumus-rumus kimiaku.
Di koridor gedung E, tempatku belajar tak jauh beda dengan suasana di kelas. Ya Tuhan, kejadian ini sudah nyaris lewat seminggu, tetapi kenapa seluruh siswa masih memberiku tatapan sebegitu bengis. Aku lebih suka jika mereka tak mempedulikanku daripada pandangan mereka penuh dengan kebencian seperti ini. Tidak, aku tak takut dibenci oleh siapapun, tapi melihat pandangan yang seperti itu, tanganku rasanya ingin sekali menampar mereka satu persatu.
Kakiku melangkah begitu saja, melewati puluhan pasang kaki yang mungkin berhenti berjalan hanya untuk melihat ekspresi wajahku. Mungkin mereka kecewa, karena ekspresiku dari seminggu lalu tetap tak berubah. Setelah melewati koridor gedung E, aku memasuki area taman sekolah. Taman dengan pemandangan yang menurutku sangat luar biasa. Aku setuju saat pihak sekolah memilih membangun taman ini daripada harus membangun gedung kaca. Itu dapat merusak lapisan ozon.
Taman ini indah di segala musim, namun jauh lebih indah jika musim semi yang mendekorasinya. Aku tenang disini. Disini sunyi. Jauh dari keramaian yang terjadi di kantin sekolah. Punggungku menyandar bagian belakang kursi taman dan mataku perlahan-lahan terpejam. Sangat indah jika membayangkan seluruh dunia didominasi oleh ekosistem ini. Sayangnya para manusia egois rela menebas habis populasi hutan dan menjadikannya pabrik-pabrik industri. Mereka sama saja dengan manusia yang tak berotak.

“Yun?”

***

TBC~
Dont be a silent reader :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar