Seoul
Match
Author
: Ryu (@ayunurcah)
Genre
: Schoollife, Romance
Rating
: Teen
Length
: Chaptered
Summary
: What the step to breath? You teach me all about magical life, and you give me
this love, love that I never feel it.
Chapter 1
Pandanganku seolah mati rasa, aku terlalu malas
mengangkat kepalaku dari meja kayu kelasku. Kakinya juga akan secara otomatis
tak berminat barang sedikitpun berpindah tempat dari bangkuku sekarang. Gaeun,
teman satu bangkuku menyuruhku untuk segera berangkat ke wastafel depan kelas
dan mencuci mukaku, sayangnya aku menganggap itu kegiatan yang tak berguna. Ini
jam istirahat, tak ada salahnya jika aku bermalas-malasan daripada harus
berdesakan di kantin untuk mendapatkan secuil makanan. Aku bukan murid Seoul
State Senior School yang malas, namun menurutku aku sudah cukup rajin dalam
mengumpulkan tugas, menghafalkan rumus, mendengarkan ocehan para guru dan
pandai dalam menjawab pertanyaan. Itu dibuktikan dengan rankingku yang selalu
berada di puncak kelas.
Lima gadis diujung kelasku sedang menggunjingku,
diam-diam. Aku tahu, aku sangat tahu. Kepeduliaanku berada pada level sangat
rendah saat ini, lagipula aku tak memiliki kepribadian berdebat tentang hal-hal
yang tidak penting dengan gadis kekanak-kanakan macam mereka. Paling-paling
mereka membicarakan hubunganku dengan Sehun.
Ah, joah! Ini sangat bagus. Kehidupanku yang sangat
sempurna dengan otak berstandar luar biasa-kata Mr. Ahn-dan kepribadian dingin
yang aku bangun sejak bertahun-tahun lamanya telah gugur. Beberapa bulan
setelah Sehun masuk ke dalam S4, ia selalu menganggu seluruh kegiatan
belajarku. Seminggu yang lalu dia memberanikan dirinya mengajakku ke kantin
sekolah yang sangatlah ramai dan menyatakan perasaan anehnya padaku disana. Jujur
saja, dia bukanlah seseorang yang buruk rupa, tentu saja tidak. Satu-satunya
alasan mengapa aku sangat malas melihat wajahnya adalah, dia disukai banyak
gadis dan dia sedikit kekanak-kanakan. Aku benci dua perkara itu.
Seminggu setelah kejadian menggemparkan itu,
lokerku penuh dengan kertas, dimana kertas itu ditulis dengan huruf balok besar
serta beberapa siluet darah yang terpampang jelas disana. Mereka adalah fans
Sehun. Aku benci idola dan fansnya.
Catatan. Aku nyaris benci semua hal di dunia ini.
Tapi aku tak membenci sekolah dan pendidikan. Itu kebutuhanku, seperti nasi,
aku membutuhkan keduanya.
Aku menolaknya. Secara mentah-mentah. Aku benci
cinta, atau apapun yang berkaitan dengannya. Satu-satunya yang kusuka adalah
apa yang aku lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, mencuci tubuhku dibawah
jatuhnya air shower, memakai seragam SMA-ku, berjalan ke halte menuju ke
sekolah, belajar di sekolah, mendengarkan tanpa berbicara, lalu pulang ke
rumah, mengguyur tubuhku dengan air dingin, makan malam dan tertidur. Hanya itu
yang kusuka. Oh, ya, aku juga suka jika kau mengajakku ke toko buku atau
perpustakaan dekat rumahku.
Yah, aku tahu jika aku dilahirkan atas dasar cinta
oleh kedua orangtua kandungku, tapi aku tak peduli itu. Karena apa, karena
mereka berdua membuangku di depan rumah seorang pelacur muda dan adiknya yang
masih kecil saat aku bayi. Karena dibesarkan di lingkungan yang agak
menyebalkan dan menjijikkan, aku sekalipun tak ingin menikmati makanan atau
apapun barang di rumah yang diperoleh dari hasil pekerjaan kotor Seyoung Eonni.
Begini, aku dibuang oleh kedua orangtuaku di depan
rumah kecil milik Seyoung Eonni dan adiknya yang bernama Minjung. Seyoung
adalah wanita nakal yang tak ada bedanya dengan murahan. Dia sudi memakan
makanan hasil keringat pekerjaan hina yang nyaris seumur hidupnya ia jalani.
Dan bodohnya lagi, Minjung Eonni yang lebih tua dariku 5 tahun itu juga sanggup
memakan hasil itu. Mereka berdua tak pernah bersikap baik padaku. Tapi aku
tetap menghargai mereka, setidaknya mereka tak sekeji kedua orangtuaku. Aku
diizinkan keluar dari rumah kapanpun aku mau setelah pekerjaan rumahku selesai.
Pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan bukanlah main-main, kawan. Aku harus
menyapu setiap inchi rumah, mengepelnya, menata setiap ruangan, mencuci piring
serta baju dan memasak. Tak heran jika aku pandai dalam segala hal. Tapi
anehnya, tanganku sama sekali tak kasar seperti tangan Minjung.
Hari ini, aku berencana akan pergi ke perpustakaan
di persimpangan jalan Chumdong A, disana adalah pusat perbelanjaan di daerah
rumahku. Gaeun meminta untuk ikut, sayangnya mendadak ia harus mengantar
kekasihnya untuk latihan wushu di Kkamheok C. Bodoh! Jika aku jadi dia, mana
mau aku melakukan itu. Gaeun hanya menitipkan novel yang menurutku bagus untuk
kupinjamkan dan dibaca olehnya. Dasar Gaeun! Ia hanya gemar membaca buku novel.
“Bodoh! Kebodohan paling besar adalah menolak Oh
Sehun!”
Aku mulai benci suara-suara yang terngiang di
kepalaku. Biasanya aku akan mengabaikan itu karena itu tidak benar, sayangnya semuanya
benar, jadi aku tak bisa mengabaikan itu.
“Jika aku jadi dia, aku akan pelihara Sehun dan
menjadikannya Rajaku. Dasar bodoh, ya, superior kelas kita!”
Oke, ini keterlaluan!
“Apa masalahmu?” tanyaku pada akhirnya mengangkat
tubuhku dari atas meja dan melangkah mendekati lima gadis sialan itu. “Kau
ingin sepertiku?”
Im Yoona tertawa, “hei, Superior, kau tersinggung?”
Aku ikut tertawa bengis, sama sekali aku tak ingin
dikalahkan dari gadis brengsek macam mereka. “Jelas aku tersinggung, karena
hanya aku siswi disini yang merasakan dicintai Oh Sehun.”
“Jaga ucapanmu, Superior!” yang lain bernama Yuri
menjawab, “kami bisa mengkeroyokmu jika kami mau.”
“Jinjja? Aku takut!” jawabku dengan nada sengak,
lalu berlalu membiarkan mereka memikirkan cemoohan yang pantas untukku.
Sayangnya semua itu takkan pernah mau kumasukkan di otakku. Karena apa, karena
otakku ini emas. Terlalu berharga untuk hal-hal yang yang tak sebanding dengan
rumus-rumus kimiaku.
Di koridor gedung E, tempatku belajar tak jauh beda
dengan suasana di kelas. Ya Tuhan, kejadian ini sudah nyaris lewat seminggu,
tetapi kenapa seluruh siswa masih memberiku tatapan sebegitu bengis. Aku lebih
suka jika mereka tak mempedulikanku daripada pandangan mereka penuh dengan
kebencian seperti ini. Tidak, aku tak takut dibenci oleh siapapun, tapi melihat
pandangan yang seperti itu, tanganku rasanya ingin sekali menampar mereka satu
persatu.
Kakiku melangkah begitu saja, melewati puluhan
pasang kaki yang mungkin berhenti berjalan hanya untuk melihat ekspresi wajahku.
Mungkin mereka kecewa, karena ekspresiku dari seminggu lalu tetap tak berubah.
Setelah melewati koridor gedung E, aku memasuki area taman sekolah. Taman
dengan pemandangan yang menurutku sangat luar biasa. Aku setuju saat pihak
sekolah memilih membangun taman ini daripada harus membangun gedung kaca. Itu
dapat merusak lapisan ozon.
Taman ini indah di segala musim, namun jauh lebih
indah jika musim semi yang mendekorasinya. Aku tenang disini. Disini sunyi.
Jauh dari keramaian yang terjadi di kantin sekolah. Punggungku menyandar bagian
belakang kursi taman dan mataku perlahan-lahan terpejam. Sangat indah jika
membayangkan seluruh dunia didominasi oleh ekosistem ini. Sayangnya para
manusia egois rela menebas habis populasi hutan dan menjadikannya pabrik-pabrik
industri. Mereka sama saja dengan manusia yang tak berotak.
“Yun?”
***
TBC~
Dont be a silent reader :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar